HAJI: MENUNGGU REZEKI NOMPLOK?

1 03 2010

Menunggu rezeki nomplok bagi seorang buruh seperti saya dan seorang guru seperti istri saya bagai menunggu Godot. Tak kan kunjung tiba. Apalagi jika jelas-jelas tak ada sumber-sumber lain. Atau potensi sumber seperti warisan orang tua, gusuran tanah, jual sawah atau haji atas biaya dinas seperti yang diadakan oleh instansi pemerintah atau kantor swasta yang bonafid. Maka jangan mimpi dapat rezeki nomplok. Bagai mendapat durian runtuh kata peribahasa. Meskipun Allah bisa saja memberikan rizki-Nya dari arah yang tak disangka-sangka. Tapi dari pada berangan-angan lebih baik bertindak. Kalau sudah bertindak, insya Allah pertolongan Allah akan turun.

Pertolongan Allah tidak harus dalam bentuk uang tunai. Niat yang kuat juga pertolongan Allah. Komitmen untuk terus menabung secara rutin setiap bulan juga merupakan bentuk pertolongan Allah. Tahan godaan agar tidak menggunakan THR berlebihan sehingga bisa menabung lebih banyak juga merupakan pertolongan Allah. Lalu, kenaikan jabatan yang berarti kenaikan gaji, sehingga bisa menabung lebih banyak lagi itu juga tentu tak lepas dari campur tangan Allah. Insya Allah itu akan turun setelah kita bertindak untuk mewujudkan cita-cita. Demikian yang saya dan istri alami.

Semua terasa mudah. Menabung terasa mudah. Hidup pas-pasan terasa indah. Mengurangi jatah jalan-jalan terasa lebih bermanfaat. Membelanjakan sedikit, menabung banyak serasa nikmat. Itulah pertolongan Allah.

Itu kami rasakan setelah kami akhirnya melangkah lebih jauh dari hanya sekedar niat. Yaitu dengan membuka tabungan haji di sebuah bank syari’ah.

Ada penyesalan ketika kami merasakan kenikmatan itu. Kenapa itu tidak kami lakukan sejak dulu. Tapi it’s better late than never. Lebih baik terlambat daripada tidak melakukan sama sekali.

Menyadari bahwa penyesalan itu kurang baik, maka kami ganti dengan bersyukur. Bersyukur bahwa Allah masih mengingatkan kami: dulu kami pernah punya niat suci ke tanah suci yang belum beranjak dari sebuah niat saja. Lalu Allah mengingatkan melalui dering telepon dari seorang teman lama dan disemangati lagi dengan keberangkatan kakak saya beserta istrinya ke tanah suci. Telepon teman dan keberangkatan kakak juga sentilan Allah yang patut disyukuri.

Demikian juga dengan Anda, syukurilah jika Anda berkesempatan membaca tulisan ini. Dan segera bertindak. Selanjutnya Allah akan menunjukkan jalan-Nya. Amiin

Take action, let me help you to open your account

Take action! Let me help you to open your account!

[hj]

Advertisements

Actions

Information

One response

1 03 2010
nikolas

siap pak ….Maju terus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: