Apa Sih Arminareka?

28 09 2010

Banyak yang bertanya apa sih Arminareka Perdana itu?
PT. Arminareka Perdana biro perjalanan yang didirikan di Jakarta pada 9 Pebruari 1990. Pendirinya adalah Bapak Drs.H.Gurril Mz dan Ibu Hj Corry Mundzakkar, dengan Bapak Sholichin GP sebagai Penasehat.

Selain dikenal sebagai biro perjalanan haji plus dan umroh PT Arminareka Perdana, juga sebagai perusahaan pengerah tenaga kerja ke luar negeri.

Dalam waktu kurang lebih 20 tahun, Arminareka sudah berhasil memberangkatkan sekitar 27.500 jamaah, baik jamaah umroh maupun haji Plus.

Untuk meningkatkan pemasaran jasa travel perjalanan ibadah haji dan umrah tersebut, pada tanggal 13 Mei 2008, Devisi Marketing PT Arminareka Perdana mendirikan PT Armina Utama Sukses (ARUS) sebagai bentuk inovasi strategi pemasaran.

Visi & Misi :
1. Mengajak Seluruh Masyarakat Untuk Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah
2. Meningkatkan Taraf Hidup Keluarga dan Seluruh Masyarakat
3. Memberi Solusi

Legalitas Perusahaan :
1. No. Surat Izin Usaha Biro Perjalanan Umum : Kep. 21/BPU/II/90
2. NPWP : 01.342.510.3-432.000
3. No. Izin Domisili : 300/75/KI IB/XI/2007
4. No. Izin Umroh : D / 142 Tahun 2009
5. No. Izin Haji : D / 80 Tahun 2009

DIREKSI :
Direktur Utama : Ir. Hj. Darnelly Guril, MSc.
Dir.Marketing : H. Subaebasni, SE.
Komisaris : H. Heru Syam.
Sek.Direksi : P.Widhiastuti, SP

Tim Pembimbing Ibadah :
Drs. K.H. Nuruddin Munawar
K.H. Ikin Ahmad Sodikin
K.H. Dave Ariant Yusuf
Drs. M.M Arif Sholahuddin

Tim Pelaksana di Saudi Arabia :
Reservasi Hotel, Bus, Catering di Mekkah dan Jeddah
H. Khalid Nasir ; HP:0508759237 Telp:+96626212106

Reservasi Hotel, Bus, Catering di Madinah
H. Wisnu ; HP:0508753104

Handling AirPort Jeddah
H. Wadut ; HP:0500704574
H. Khalid Nasir ; HP:0508759237
Tim Muthawif di Saudi Arabia :
H. Marzuan ; HP:0501819865
H.Safari ; HP:0509231405
H.Tohir ; HP:0559491567
H. Dofir ; HP:0556601814
H. Badrun ; HP:0503569134
H. Wadut ; HP:0500704574





HAJI: MENUNGGU REZEKI NOMPLOK?

1 03 2010

Menunggu rezeki nomplok bagi seorang buruh seperti saya dan seorang guru seperti istri saya bagai menunggu Godot. Tak kan kunjung tiba. Apalagi jika jelas-jelas tak ada sumber-sumber lain. Atau potensi sumber seperti warisan orang tua, gusuran tanah, jual sawah atau haji atas biaya dinas seperti yang diadakan oleh instansi pemerintah atau kantor swasta yang bonafid. Maka jangan mimpi dapat rezeki nomplok. Bagai mendapat durian runtuh kata peribahasa. Meskipun Allah bisa saja memberikan rizki-Nya dari arah yang tak disangka-sangka. Tapi dari pada berangan-angan lebih baik bertindak. Kalau sudah bertindak, insya Allah pertolongan Allah akan turun.

Pertolongan Allah tidak harus dalam bentuk uang tunai. Niat yang kuat juga pertolongan Allah. Komitmen untuk terus menabung secara rutin setiap bulan juga merupakan bentuk pertolongan Allah. Tahan godaan agar tidak menggunakan THR berlebihan sehingga bisa menabung lebih banyak juga merupakan pertolongan Allah. Lalu, kenaikan jabatan yang berarti kenaikan gaji, sehingga bisa menabung lebih banyak lagi itu juga tentu tak lepas dari campur tangan Allah. Insya Allah itu akan turun setelah kita bertindak untuk mewujudkan cita-cita. Demikian yang saya dan istri alami.

Semua terasa mudah. Menabung terasa mudah. Hidup pas-pasan terasa indah. Mengurangi jatah jalan-jalan terasa lebih bermanfaat. Membelanjakan sedikit, menabung banyak serasa nikmat. Itulah pertolongan Allah.

Itu kami rasakan setelah kami akhirnya melangkah lebih jauh dari hanya sekedar niat. Yaitu dengan membuka tabungan haji di sebuah bank syari’ah.

Ada penyesalan ketika kami merasakan kenikmatan itu. Kenapa itu tidak kami lakukan sejak dulu. Tapi it’s better late than never. Lebih baik terlambat daripada tidak melakukan sama sekali.

Menyadari bahwa penyesalan itu kurang baik, maka kami ganti dengan bersyukur. Bersyukur bahwa Allah masih mengingatkan kami: dulu kami pernah punya niat suci ke tanah suci yang belum beranjak dari sebuah niat saja. Lalu Allah mengingatkan melalui dering telepon dari seorang teman lama dan disemangati lagi dengan keberangkatan kakak saya beserta istrinya ke tanah suci. Telepon teman dan keberangkatan kakak juga sentilan Allah yang patut disyukuri.

Demikian juga dengan Anda, syukurilah jika Anda berkesempatan membaca tulisan ini. Dan segera bertindak. Selanjutnya Allah akan menunjukkan jalan-Nya. Amiin

Take action, let me help you to open your account

Take action! Let me help you to open your account!

[hj]





Niat Saja Belum Cukup

24 02 2010

NIAT HAJI

Haji adalah salah satu dari rukun Islam yang lima. Banyak anggapan Islam kita akan sempurna jika telah melaksanakan ibadah Haji. Karena itu cita-cita berhaji adalah cita-cita yang wajar ada dalam diri setiap muslim. Justru tidak wajar jika ada muslim yang tidak berkeinginan menunaikan ibadah Haji.

Tapi karena besarnya biaya dan beratnya medan maka Rasulullah mengatakan bahwa haji hanya wajib bagi yang mampu. Yang tidak mampu tidak diwajibkan bersusah payah menunaikan ibadah ini. Ibadah yang menuntut persiapan mal (harta), ruh (keimanan) dan jasad (badan).

Dari Umar bin Khottob r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu. (HR. Muslim)

Dari segi biaya, tidak ada yang memungkiri tingginya biaya menunaikan ibadah haji. Sekitar USD 2.500 – 3.000 harus disiapkan oleh setiap orang yang hendak berhaji. Jika berangkat suami-istri tinggal dikalikan dua saja. Belum termasuk biaya bagi keluarga yang ditinggalkan, biaya bimbingan haji, transportasi dalam mengurusi tetek bengek, kain ihrom, bekal pakaian, makanan dan sebagaianya.

Untuk ONH Plus biayanya sekitar USD 6.500 per orang.

Yang paling besar, dan sering dianggap sebagai parameter ketidakmampuan adalah ongkos naik itu. Maka tak heran jika sering kita dengar dialog seperti ini:

“Enak ya, bisa naik haji?”

”Pingin naik Haji?”

“Tentu, dong”

“Kapan berangkat?”

“Ya, saya kan cuma buruh. Nanti kali, kalau dapat rejeki nomplok!”.

Ya, bagi seorang buruh yang sudah berkeluarga, dengan kerja full lembur yang hanya mendapatkan 3 – 4 juta per bulan, pergi haji bagai burung pungguk merindukan bulan. Maka pergi haji ke tanah suci sering hanya jadi sekedar niat suci saja.

Demikian juga yang saya alami. Niat dan kemauan ada sejak 15 tahun yang lalu. Tapi rezeki nomplok tak kunjung datang. Bahkan dengan perhitungan saya, seakan tak mungkin bisa pergi haji. Untuk nafkah keluarga yang terdiri dari satu istri dan 4 anak, gaji jadi pas-pasan. Paling-paling tambahannya THR yang habis untuk biaya mudik. Bonus tahunan tak kunjung ada. Ketika pindah kerja, bonus tahunan ada meskipun cuma sekali gaji. Sementara daftar pengeluaran sudah menunggu untuk direalisasikan. Warisan? Nggak ada. Maka yang ada hanya pasrah. Nunggu panggilan Nabi Ibrahim a.s. Demikian sering dikatakan orang-orang.  Paling banter minta do’a kepada tetangga yang berangkat haji, agar nama saya segera dipanggil ke sana.

NIAT SAJA TIDAK CUKUP

Masih banyak anggapan bahwa yang bisa pergi haji hanya para pedagang besar, petani kaya, direktur sebuah perusahaan dan lain-lain. Tapi ketika saya perhatikan ternyata tidak semua pedagang besar bisa pergi haji, karena hatinya belum tergerak. Demikian juga dengan petani kaya. Juga para menejer dan direktur di kantor saya, maka saya menyimpulkan yang penting adalah niat dan kemauan untuk naik haji!

Setelah 15 tahun saya menanamkan niat dalam diri saya dan belum teralisasi, lalu muncul ’aha’ dalam diri saya. Bahwa ternyata niat saja tidak cukup. Harus ada ikhtiar. Usaha. Action!

Lalu usaha apa yang bisa dilakukan oleh buruh seperti saya dan guru seperti istri saya? Gaji tetap, ada tambahan kalau lembur. Itupun kalau tidak dipelototin juragan Jepang.  Ada tambahan bonus dan THR yang sudah ada alokasinya masing-masing. Maka perlu action. Action yang kami lakukan sederhana saja yaitu…. Menabung! Menyisihkan sebagian uang gaji untuk ditabung. Berapapun penghasilan saya. Sekian persen harus disisihkan untuk ditabung. Dan ternyata ini juga yang dilakukan oleh petani, pemulung, atau pedagang kecil di kampung saya yang ternyata berhasil merealisasikan mimpinya menunaikan ibadah haji.

Kini ada pula cara mudah untuk berhaji. Jangankan haji reguler, haji plus insya Allah bisa dilakukan.

PT. Arminareka Perdana membuka kesempatan untuk ini. Caranya? Cukup dengan membayar DP 5 juta untuk haji plus, kita diberi kesempatan menjalankan usaha travel haji dan umroh. Dengan membantu memasarkan kepada saudara, teman, dan tetangga. Dengan itu, kita mendapatkan komisi yang tak sedikit untuk menambah tabungan haji kita.

Rp. 1.5 juta untuk 1 referensi umroh.

Rp. 2.5 juta untuk 1 referensi haji plus.

Ini adalah salah satu usaha mewujudkan niat kita berhaji. Melaksanakan rukun Islam yang kelima.

Lalu usaha apa yang sudah Anda lakukan selama ini untuk merealisasikan niat naik haji Anda?

Belum ada? … Masih hanya sebatas niat saja?

Just take an action:  Hubungi saya di 0878 821 883 55. Telpon boleh. SMS juga boleh

Semoga Allah memberi kemudahan bagi kita semua. Amiin.

Salam dari Choirul Asyhar, Penulis buku “Haji, Rencanakanlah Maka Kau Akan Mampu”





Setelah Nonton Emak

21 02 2010
film religi yang bagus dari penulis2 muslim

film religi yang bagus karya penulis2 muslim

Alhamdulillah, bergabung dengan Arminareka akhirnya saya berkesempatan nonton film ini. Sebenarnya ini film ini diproduksi akhir tahun 2009. Tapi saya baru sekerang menontonnya. Selain karena gratis, saya juga termotivasi untuk ketemu para jamaah calon haji dan umroh bersama PT. Arminareka Perdana, yang awal Maret 2010 akan memberangkatkan kurang lebih 100 jamaah umroh.

Kembali ke film….

Film ini diangkat dari cerpen karya apik Asma Nadia, dan skenarionya digarap dengan apik pula oleh Aditya Gumay yang sekaligus sebagai sutradara.

Film ini menampilkan keinginan Emak orang kecil yang pengen naik haji. Emak yang hanya bisa menabung sejuta setahun. Saat ini, ketika terkumpul 5 juta, umur emak sudah 60 tahunan. Kalau ONH 30 juta, berarti 25 tahun lagi Emak bisa naik haji.  Itu berarti umur 85 an Emak bakal pergi haji. Sebuah perjuangan ibadah yang sulit dan panjang. Tapi kecintaan kepada Allah mendorong Emak melakukan ACTION, dengan membuka tabungan haji dengan uangnya yang 5 juta itu. Tak peduli apakah Allah masih memberi umur lebih panjang atau tidak.

Kata Emak, “kalau Allah keburu memanggil Emak, hati Emak toh sudah lama berada di Makkah.”

Tak sekedar menceritakan beratnya perjuangan Emak menuju baitullah. Film ini juga menampilkan ketimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat muslim Indonesia. Di satu sisi seorang seperti Emak demikian sulitnya melaksanakan rukun Islam kelima, tapi di sisi lain tetangga Emak, seorang saudagar kaya raya telah menunaikan haji dan umroh berkali-kali.

Si kaya yang telah berhaji berkali-kali, tak menyadari memiliki tetangga yang kelaparan sehingga harus makan bangkai burung. Sementara Emak yang miskin segera tergerak menyisihkan uangnya untuk membantu tetangganya itu.

Emak yang baru memiliki tabungan 5 juta, rela mengorbankan seluruh tabungannya demi membantu biaya operasi hernia cucu satu-satunya.

Dengan cerita yang apik dan ending tak terduga toh akhirnya Emak dan Zain berhasil menunaikan ibadah haji. Dalam blognya Asma Nadia menulis tentang pengalaman pribadinya menunaikan ibadah haji  “Biaya naik haji makin membumbung tinggi sehingga sulit untuk dijangkau. Tapi berkat Allah, saya dan suami bisa juga naik haji. Sampai suami
bilang kita kira haji itu kita yang bayar tapi ternyata Allah yang bayar. Pokoknya nabung dan diniatin untuk haji meski cuma seribu perak per hari.”

Ayo, wujudkan niat Anda dengan ACTION.

Bisa membuka tabungan haji.

Atau gabung dengan PT. Arminareka. Cukup bayar DP 5 juta. Insya Allah, Dia akan membukakan jalan-jalan kemudahan bagi kita. Amiin.





Haji Jika Mampu

18 02 2010

Rencanakanlah!

Senang rasanya mendengar, menyaksikan dan mengantar teman-teman yang berkesempatan pergi haji. Bagi yang sudah pernah pergi menunaikan ibadah haji, pasti terkenang keindahan dan kenikmatan ibadah di tanah suci. Alharamain Makah dan Madinah. Bagi yang belum berkesempatan berhaji, semakin menjadi-jadi keinginannya melaksanakan rukun Islam ke-5 ini.

Kalau ada muslim-muslimah yang tak punya sedikitpun keinginan berhaji, maka perlu diperiksa ada apa dengan keimanan orang ini. Biasanya setelah ditanyakan kepadanya ada 2 sebab utama. Pertama dia apatis dengan kondisi keuangannya. Kedua dia merasa belum cukup suci untuk pergi ke tanah suci. Meskipun uang ada berlimpah-limpah.

Tak terasa sebentar lagi teman-teman yang terdaftar berangkat haji tahun 2010, sudah harus belajar segala sesuatu tentang haji. Agar nanti bisa melaksanakannya dengan baik dan benar.  Wow, senang sekali menjadi orang yang berkemampuan menunaikan ibadah haji ini.

BAGAIMANA AGAR BERKEMAMPUAN?

Ibadah ini termasuk ibadah kelas berat. Fisik harus siap. Hati juga demikian. Dan yang paling sering jadi pembicaraan adalah biaya. Maka wajar jika kewajiban ibadah haji itu bersyarat:  “…. jika kalian mampu.”

Dari Umar bin Khottob r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu.

(HR. Muslim)

Mencermati hadist di atas, ada dua cara orang Islam menyimpulkannya:

Pertama, “karena saya belum mampu maka saya tidak wajib melaksanakan ibadah haji. Nanti kalau saya mampu maka saya dikenai kewajiban haji itu. Sekarang belum. Ada ‘rukhsyah’ untuk tidak melaksanakannya karena saya masih belum berkemampuan.”

Jika membacanya demikian, maka akan muncul permakluman-permakluman lainnya terhadap kondisi diri sendiri.

Seperti:

“Saya kan cuma buruh pabrik, mana mungkin bisa melaksanakan haji. Setiap bulan gaji pas-pasan untuk hidup, sekolah anak-anak dan lain-lain kebutuhan rumah tangga.”

Atau,

“Saya masih banyak hutang. Setiap bulan harus bayar angsuran rumah, mobil, motor, hape, tivi, panci, karpet, dan lain-lain.”

Atau lagi,

“Rumah saya sudah tua, jadi harus direnovasi, jika tidak mau lapuk oleh waktu.”

Atau pula,

“Kayaknya harus dapat rejeki nomplok nih, baru saya bisa naik haji.”

Atau,

“Pokoknya kalau dapat undian berhadiah mobil saya akan jual untuk ongkos naik haji.”

Ada juga,

“wah, mana mungkin? Saya tidak punya sawah untuk dijual bakal ONH.”

Kalau terus didengarkan makin banyak lagi alasan yang muncul, yang justru melemahkan diri. Alasan-alasan ini justru menjadikan kita sebagai orang yang tidak kunjung mampu berhaji. Padahal kalau ditanya mau nggak sih dia haji, pasti jawabannya “Mau dong, siapa yang nggak pengen?”

Pengen adalah cita-cita. Cita-cita adalah dream atau impian. Anak kecil jika ingin mainan bisa termimpi-mimpi untuk mendapatkannya. Sampai tidurnya mengigau menyebut-nyebut nama mainan itu. Ketika bangun tidur, merengek lagi kepada ayah ibunya agar dibelikan mainan itu. Mimpi adalah kunci… demikian sebaris syair lagu Laskar Pelangi.

Kalau kita pengen haji, mestinya juga demikian. Termimpi-mimpi saat tidur, lalu bekerja keras saat terbangun. Demi tercapainya cita-cita itu. Bukan sebaliknya melemahkan diri kedalam ketidakmampuan itu. Jika demikian, maka benarlah bahwa keinginannya untuk berhaji tak bakal terwujud karena dia selalu menenggelamkan dirinya dalam kelompok orang yang tak mampu. Sehingga tidak perlu pergi haji.

Itu adalah cara pertama. Bagaimana dengan cara kedua membaca hadis itu?

“Ini adalah rukun Islam, saya harus jadi orang mampu. Agar saya bisa berhaji!”

“Rukhsah bagi yang tak mampu itu, biar untuk orang lain saja. Saya harus mampu!”

“Saya harus melengkapi keislaman saya dengan melaksanakan kelima-lima rukun Islam itu, termasuk berhaji!”

Lalu ditargetkan kapan bisa naik haji. Kalau untuk rumah seharga 100 juta berani mencicil  10-15 tahun, kenapa tidak mencoba mencicil ONH?

Ayo, ambil kalkulator. Masukkan angka 70 juta untuk ongkos haji reguler suami-istri 10 tahun yang akan datang. Bagi dengan 10, maka itu berarti kita harus menabung 7 juta per tahun. Bagi lagi dengan 12. Itu berarti kita harus menyisihkan Rp. 584 ribu per bulan. Jika gaji kita 3 juta per bulan berarti dengan menyisihkan 20% setiap bulan, kita akan berkemampuan berhaji sepuluh tahun ke depan. Yaitu tahun 2020 nanti. Sambil berdoa semoga nilai rupiah tidak  terdepresiasi terhadap dollar.

Kalau nilai ini dianggap terlalu besar, mari kita bikin urutan prioritas pengeluaran bulanan. Coret yang tidak perlu. Coret apa yang tidak akan membuat kita mati tanpanya. Coret apa yang justru membuat kita sakit jasmani dan rohani.

Apa yang masuk kriteria itu?

Banyak. Misalnya rokok yang merusak jasmani kita. Bioskop yang merusak kantong dan rohani kita. Jalan-jalan ke mall yang menyuburkan sifat konsumerisme dan hedonisme. Kurangi jajan, karena istri telah memasak di rumah. Kurangi jajan yang dilakukan hanya karena hobbi. Misalnya makan bakso atau duren. Jadikan makan karena butuh, bukan karena hobi apalagi nafsu. Kurangi memanjakan anak dengan jajanan tak bergizi dan menyuburkan penyakit. Yang menyebabkan biaya pengobatan membengkak dan tak dikover asuransi.

Kalau istiqomah dan terus berdoa kepada Allah niscaya Allah akan menguatkan niat kita menuju berkemampuan itu.

Ada juga cara lain mengumpulkan uang bakal ongkos naik haji:

Ikuti program PT. Arminareka. Cukup dengan membayar DP 5 juta, Anda terdaftar menjadi jamaah calon haji. Sisanya bisa dicicil tanpa batasan waktu. Atau Anda mereferensekian teman, tetangga dan saudara untuk berhaji atau umroh melalui Arminareka. Maka Anda akan mendapat penghasilan tambahan yang tak sedikit.

Berapa besarnya?

Rp 1.5 juta/satu referensi umroh dan Rp 2.5 juta /satu referensi haji. Semakin banyak Anda mengajak orang lain beribadah haji semakin dekat Anda kepada cita-cita melaksanakan haji atau umroh. Insya Allah.

Labbaikallahumma labbaik

Labbaika laa syarika laka labbbaik

Innal hamda wanni’mata

Laka walmulk

Laa syariikalak





Mampulah, Agar Bisa Berhaji

14 02 2010
O, senangnya melihat langsung Ka'bah. Kiblat yang selama ini kita shalat menghadapnya

O, senangnya melihat langsung Ka'bah. Kiblat yang selama ini kita shalat menghadapnya

Rukun Islam yang kelima adalah pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah, jika berkemampuan. Mampu artinya memiliki ilmunya, tenaga dan kesehatannya, dan finansialnya. Kalau ditanyakan kepada setiap muslim apakah ada keinginan menunaikan haji, pasti jawabannya:

“Ya, pasti. Siapa yang gak pengen.”

“Tapi, saya belum mampu”

Kebanyakan mampu yang dimaksudkan ini adalah mampu secara finansial. Oke, ilmu bisa dipelajari, kebugaran bisa dilatih, jadi memang tinggal finansial yang pantas dijadikan sebagai alasan. Sehingga banyak muslimin yang tidak proaktif menyambut perintah berhaji, karena ada syarat “jika mampu” itu.

Seharusnya ada cara pandang baru dalam menyikapi kalimat “berhaji jika berkemampuan” itu.

Bagaimana jika kita balik logikanya: “Ayo menjadi berkemampuan agar bisa berhaji!”

Alhamdulillah, di beberapa komunitas wirausaha mulai tumbuh keinginan untuk mandiri. Tak hanya mandiri, bahkan memberikan kemaslahatan bagi beberapa karyawan dan keluarganya. Selanjutnya menjadi orang yang berkemampuan. Bahkan berkemampuan lebih secara finansial. Banyak yang sukses. Banyak juga yang menjadikan ibadah haji menjadi salah satu targetnya. Salah satu contoh adalah MMC1 yang berketetapan hati menunaikan haji bersama-sama tahun 2012.

Ternyata berhaji bisa dikejar realisasinya. Dengan menjadikan diri berkemampuan. Dengan bekerja lebih keras dan cerdas. Bukan menunggu rezeki tercurah dari langit. Bukan menunggu panggilan Nabi Ibrahim a.s. Karena panggilan itu sudah ada sejak dulu, sejak perintah berhaji itu menjadi rukun Islam, melalui sebuah hadits Nabi SAW.

“Dari Umar bin Khattab r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu.” (HR. Muslim)

Ayo, jadilah berkemampuan agar bisa segera menunaikan ibadah haji. Melaksanakan rukun Islam kelima! Rencanakanlah dari sekarang. Kalau perlu daftar dari sekarang. Semakin lambat mengambil tindakan semakin jauh waiting listnya. Jika tak mau menunggu terlalu lama, bayar DP-nya untuk mengikuti program haji khusus.

Semoga Allah memudahkan kita semua. Amiin.

Cikarang Baru, 29 Shafar 1431/14 Februari 2010

Choirul Asyhar

Penulis Buku “Haji, Rencanakanlah Maka Kau Akan Mampu”





Kemana mendaftar Haji?

13 02 2010

Banyak biro perjalanan haji plus. Semuanya melayani jamaah menunaikan haji dan umroh. Tapi lebih baik Anda simak salah satu biro perjalanan haji yang bernama PT. Arminareka Perdana ini:

Biro Perjalanan Lain Biro Perjalanan Armina
Bayar harus Cash. Bisa dicicil, cukup mendaftar dulu Rp. 3,5 Juta.
Silaturahmi terbatas, kepada anggota rombongan saja. Silaturahmi bisa berkembang dan berlanjut
Bila mempromosikan Umroh/Haji Plus Lewat biro lain, Anda tidak mendapat apa – apa, atau kalau dapat, setelah acara selesai. Bila mempromosikan Umroh/Haji Plus lewat Sistem ARMINA, Anda berpeluang mendapatkan Umroh/Haji Plus Gratis,serta mendapatkan komisi yang sangat besar, dan Anda bisa mendapatkan sampai hari tua dan bahkan dapat diwariskan.
Hanya Ibadah untuk diri sendiri saja dan tidak bisa menolong orang lain untuk Ibadah Umroh/Haji Plus seperti Anda. Selain beribadah, Anda juga bias menolong orang lain untuk Umroh/Haji Plus sama seperti Anda.

UMROH BERSAMA (ARP) ARMINA

Dengan uang DP Umroh 3,5 juta atau DP Haji Plus 5 juta, Anda akan mendapatkan:
1. Voucher UMROH senilai USD 350 atau Voucher Haji Plus USD 500

2. Perlindungan asuransi kecelakaan diri senilai (PA) Rp. 50.000.000,- dan Meninggal biasa Rp. 5.000.000.- untuk satu tahun dan dapat diperpanjang,
3. Plus souvenir dari ARMINA.

Selain itu Anda mendapatkan HAK USAHA Umroh dan Haji Plus.
Artinya dengan mereferensikan teman, tetangga dan keluarga Anda untuk umroh dan haji melalui Arminareka, Anda akan mendapatkan komisi:

Rp. 1.5 juta/orang (Umroh)
Rp. 2.5 juta/orang (Haji).

Di samping komisi-komisi lain, sesuai dengan prestasi pemasarannya.

Dengan komisi ini tabungan Anda akan bertambah dan akan cepat mewujudkan niat Anda untuk menjalankan ibadah Haji dan Umroh.

Menarik?
Hubungi saya Choirul Asyhar di 0878 821 883 55